Lirik Lagu Sinopsis Film Gaya Hidup
Blackberry LG Mobile Nokia Samsung Sony Ericsson
Klasemen L.Italia Klasemen L.Inggris Jadwal Liga Italia Jadwal Liga Inggris
Resto Enak di Jakarta Resto Romantis di Jkt Hokben Delivery Bakmi GM Delivery PHD - Pizza Hut

Free $25

Tampilkan postingan dengan label pengantar perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengantar perpustakaan. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Januari 2011 | 08.00 | 0 Comments

Indeks

Dalam matematika, indeks merupakan notasi yang menunjuk pada unsur tertentu dalam suatu susunan unsur-unsur. Secara umum indeks adalah petunjuk yang sistematik kepada satuan-satuan yang terkandung di dalam, atau konsep yang diturunkan dari koleksi entitas atau basis data. Disamping itu, dalam pengertian praktis indeks juga dapat didefinisikan sebagai daftar referensi secara alfabetis yang biasanya terdapat pada bagian akhir sebuah buku. Dalam ilmu perpustakaan indeks mempunyai arti yang luas, yang secara umum dapat diartikan sebagai catatan mengenai nilai-nilai dari berbagai atribut yang diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pencarian informasi. Apabila atribut yang dimaksud adalah subjek maka bentuk catatan tersebut adalah indeks subjek, dan apabila atribut yang dimaksud adalah pengarang maka bentuk catatan tersebut adalah indeks pengarang. Secara tradisional, sebagian besar upaya pengindeksan merupakan pengindeksan subjek.


Dalam Harrod's Librarian's Glossary and Reference Book istilah indeks (index term) didefinisikan sebagai bahasa yang digunakan dalam indeks subjek yang merupakan bagian dari sistem temu kembali informasi, terdiri dari susunan istilah yang alphabetis atau variasi dari istilah tersebut. Dalam sistem temu kembali informasi, dokumen dinyatakan dalam himpunan istilah indeks dengan hubungan semantik antar istilah. Sebagai representasi dokumen indeks diharapkan dapat menggambarkan informasi yang terkandung dalam dokumen sehingga dokumen yang diindeks dapat ditemukan melalui istilah indeks yang dipergunakan.



Fungsi Indeks


Indeks mempunyai 3 (tiga) tujuan utama yaitu:


  1. Memberikan kemudahan dalam menemukan dokumen berdasarkan subjek;
  2. Mengidentifikasi topik suatu dokumen sehingga dapat dihubungkan dengan dokumen lain;
  3. Memprediksi relevansi suatu dokumen dengan kebutuhan informasi tertentu.



Sifat indeks


Selain karakteristik representasi informasi seperti yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu, menurut Rowley (1995) indeks mempunyai sifat sebagai berikut:


  1. Spesifisitas (specificity): indeks harus merupakan istilah spesifik yang berkaitan dengan subjek dokumen.
  2. Mendalam (exhaustivity): indeks yang diberikan pada suatu dokumen harus didasarkan pada analisis subjek yang mendalam.
  3. Terhindar dari kesalahan (error): indeks yang diberikan pada suatu dokumen harus terhindar dari kesalahan interpretasi dan intervensi manusia.




Jenis Indeks


Terdapat beberapa jenis indeks subjek. Salah satu jenis indeks yang paling mudah dalam proses pembuatannya adalah indeks KWIC (Keyword In Context). Indeks KWIC adalah indeks yang secara langsung diturunkan dari kata kunci (keyword) yang terdapat dalam judul dokumen dengan susunan seperti aslinya. Kata kunci adalah kata-kata yang digunakan dalam penulisan dokumen dan dianggap mempunyai arti penting.


Indeks KWIC dibuat dengan membuang semua kata yang tidak mempunyai arti (stop word) yang terdapat dalam judul dokumen. Kata-kata yang tertinggal adalah kata-kata kunci yang tersusun sesuai dengan susunan dalam judul aslinya. Format indek KWIC sangat terbatas, hanya satu baris dengan jumlah karakter tertentu. Judul yang panjang akan dipotong sesuai dengan jumlah karakter yang dapat ditampung dalam baris tersebut. Indeks yang yang ditampilkan dapat berupa bagian kata kunci pada bagian kiri, bagian tengah, atau bagian kanan dari susunan kata-kata kunci yang dihasilkan. Kelemahan indeks KWIC adalah kemungkinan besar indeks KWIC terlihat sangat aneh dan membingungkan bagi pengguna sehingga tidak banyak bermanfaat secara praktis.


Perkembangan dari indek KWIC adalah indek KWOC (Keyword Out of Context). Kata-kata kunci yang menyusun indeks KWOC sama dengan indeks KWIC, perbedaan hanya terletak pada susunan dan tampilannya. Setiap kata kunci yang diekstrak dari judul disusun sebagai tajuk dan di bawah masing-masing tajuk tersebut diberikan judul lengkap dan referensi sumbernya. Dalam hal ini tidak ada pembatasan ruang untuk setiap cantuman (entry). Kelemahan indeks KWOC adalah kemungkinan besar terdapat tajuk yang berupa kata-kata yang kurang berkualitas seperti kata sifat.


Disamping jenis-jenis indeks tersebut di atas, terdapat satu jenis indeks yang relatif lebih rumit dalam pembuatannya yaitu yang disebut sebagai deskriptor. Deskriptor yaitu istilah indeks yang berupa istilah-istilah standard atau biasa disebut sebagai kosa kata terkendali (controlled vocabulary). Dalam penentuan deskriptor, kata-kata kunci yang diekstrak dari dokumen ditranslasikan ke dalam istilah-istilah atau kosa kata standard yang terdapat dalam bahasa indeks alfabetis seperti tesaurus atau skema klasifikasi

Read more

Konsep Abstract

Dalam dunia perpustakaan, terutama perpustakaan khusus dan perpustakaan akademik, abstrak bukanlah sesuatu yang asing. Sejak masa awal kepustakawanan, bersama dengan pembuatan indeks (pengindeksan), pembuatan abstrak selalu menjadi salah satu kegiatan terpenting para pustakawan. Ketika perpustakaan memasuki era digital, memang ada beberapa perubahan mendasar dalam sikap dan cara pustakawan maupun pengguna jasanya memandang fungsi abstrak. Juga ada teknologi baru seperti automatic abstracting (pengabstrakan otomatis), automatic text summarization, maupun text mining. Namun, secara umum tetap dapat dikatakan, abstrak adalah upaya para pustakawan dan pengelola sistem informasi untuk memudahkan pemanfaatan koleksi atau dokumen oleh penggunanya, terutama dokumen tekstual. Dalam konteks penyimpanan dan penemuan-kembali, abstrak berfungsi sebagai wakil dokumen, merupakan ringkasan isi atau bagian terpenting yang dapat dipakai oleh orang untuk mengira-ngira apakah dokumen bersangkutan memang relevan untuk kepentingannya. Lancaster (1991) menyatakan bahwa sebuah abstrak adalah representasi yang ringkas tetapi akurat dari isi suatu dokumen. Ia membedakan abstract dari extract, karena sebuah extract adalah versi singkat (abbreviated version) dari sebuah dokumen yang dibuat dengan jalan mengambil kalimat-kalimat dari dokumen tersebut. Sedangkan abstract, walaupun memakai berbagai kalimat yang ada dalam dokumen, merupakan sepenggal teks yang diciptakan oleh si pembuat abstrak, bukan kutipan langsung dari penulisnya [1].

Sebagaimana dikatakan oleh Bernier (2003), setidaknya ada 7 manfaat terpenting kegiatan pembuatan abstrak, yaitu:

  1. Memudahkan pembaca (terutama peneliti dan akademisi) menentukan dokumen yang akan dibacanya, sebab perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan luas, melibatkan lebih dari 50 bahasa dunia. Pembuatan abstrak dalam bahasa yang dikenali pengguna akan sangat membantu proses penentuan apakah sebuah dokumen perlu diambil untuk dibaca atau tidak.
  2. Jumlah jurnal ilmiah dan akademik terlalu banyak untuk diperiksa satu persatu oleh para ilmuwan, sehingga sebuah kumpulan abstrak akan sangat membantu proses pemutakhiran pengetahuan. Ilmuwan tidak perlu membaca dulu satu per satu artikel di bidangnya, sebelum memutuskan untuk memilih artikel yang paling dia perlukan.
  3. Seringkali abstrak dapat menggantikan fungsi artikel aslinya, terutama kalau jenis abstrak itu adalah abstrak informatif (lihat penjelasan tentang jenis abstrak di bawah).
  4. Dengan membaca abstrak terlebih dahulu, para peneliti dan akademisi dapat menghemat banyak waktu sebelum membaca artikel aslinya. Tanpa abstrak yang berkualitas, seringkali artikel yang dipilih untuk dibaca belum tentu benar-benar relevan.
  5. Kumpulan abstrak seringkali lebih mudah dihimpun ke dalam satu bidang atau sub-bidang yang sejenis dan saling berkait, daripada kumpulan artikel di jurnal yang seringkali tidak selalu benar-benar berkaitan satu sama lainnya. Kumpulan abstrak, dengan demikian, sangat membantu peneliti dan akademisi memahami bidang pengetahuan dan batas-batasnya.
  6. Abstrak semakin "ampuh" jika disertai indeks dan klasifikasi yang semakin memudahkan pencari menelusuri belantara artikel ilmiah. Tanpa abstrak yang demikian, sangatlah tidak praktis jika seorang peneliti harus menelusuri setiap bidang pengetahuan secara satu per satu.
  7. Tanpa abstrak yang berkualitas, pemilihan artikel atau dokumen untuk diambil dan dibaca menjadi kurang akurat. Abstrak yang baik akan sangat meningkatkan akurasi pemilihan dokumen. Tanpa abstrak, seringkali peneliti atau akademisi hanya menebak-nebak isi dokumen sebelum mengambil dan membacanya. Secara umum ada 4 jenis abstrak, yaitu abstrak informatif, abstrak indikatif, abstrak kritis, abstrak yang memakai sisi pandang khusus (slanted). Di dunia perpustakaan dan dokumentasi, pembuatan abstrak dilakukan dengan memenuhi standar tertentu, misalnya di Amerika Serikat digunakan ANSI/NISO Z39.14 Guidelines for Abstracts.
    Di dalam standar itu dijelaskan bahwa abstrak informatif pada umumnya digunakan untuk tulisan yang mengandung penelitian ilmiah. Di dalam abstrak ini ada tujuan, metodologi, hasil, dan kesimpulan penelitian. Sedangkan abstrak indikatif biasanya adalah untuk tulisan yang tidak terstruktur rapi seperti tulisan ilmiah, misalnya dalam bentuk esei, opini, atau untuk dokumen yang panjang seperti buku, prosiding, atau direktori. Abstrak kritis dan abstrak bersisi-pandang-khusus, pada umumnya mengandung komentar evaluatif, baik tentang isi maupun gaya penulisan dan penyajian, dari si pembuat abstrak yang ahli di bidang tertentu.

Standar pembuatan abstrak itu juga menentukan bahwa panjang abstrak bergantung pada jenis dokumen yang diabstrak, jenis abstrak, dan tujuan penulisannya. Tentu saja, bahasa yang digunakan juga menentukan panjang-pendek abstrak. Dokumen berbahasa Inggris yang panjang (misalnya buku), pada umumnya memiliki abstrak dengan panjang maksimum 300 kata. Dalam bahasa Indonesia, mungkin sekitar 400 kata. Standar itu juga menetapkan bahwa abstrak di jurnal ilmiah harus muncul di bawah judul dan nama pengarang. Jika abstrak itu merupakan bagian dari bibliografi, maka abstrak ditampilkan setelah sitasi (kutipan). Ketika abstrak menjadi bagian dari pangkalan data yang dapat ditelusur, maka abstrak itu juga harus mengandung katakunci yang kemungkinan akan dipakai oleh para pencari informasi.

Ketika pertumbuhan informasi ilmiah semakin pesat, pembuatan abstrak menciptakan kepusingan tersendiri di dunia perpustakaan. Pembuatan secara hastawi (manual) selalu lebih lambat dari pertumbuhan karya ilmiah yang harus diabstrak, dan jumlah pengabstrak (abstractor) profesional juga tak selalu memadai. Sudah sejak tahun 70an Borko dan Bernier (1975) mengingatkan bahwa kualitas abstrak yang dibuat oleh penulisnya sendiri seringkali tidak menentu, walaupun sudah ditulis oleh orang yang paling mengerti tentang apa yang diabstraknya. Pembuatan abstrak yang baik membutuhkan latihan dan pengalaman yang cukup, yang seringkali tidak dimiliki oleh penulis-penulis. Akhirnya muncul semacam "industri" pembuatan abstrak yang digolongkan sebagai secondary services, mendampingi primary services, yaitu industri penerbitan jurnal dan laporan penelitian. Di Indonesia, industri seperti ini belum ada, selain karena industri utamanya juga belum tumbuh dengan baik, juga karena kegiatan pembuatan abstrak tampaknya belum menjadi kebutuhan.


Seorang pembuat abstrak seringkali adalah seorang spesialis subjek (subject specialist) yang mengandalkan pengetahuannya tentang suatu subjek, dan demikian ia diharapkan dapat membuat abstrak dengan cepat karena mengerti istilah-istilah yang dipakai seorang penulis di suatu bidang ilmu tertentu. Kualitas abstrak, yang dibuat oleh penulisnya sendiri maupun oleh orang lain, sangat menentukan kualitas komunikasi antara penulis dengan pembaca sebuah artikel ilmiah atau laporan penelitian. Kualitas komunikasi ini pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan keilmuan. Komunikasi informasi ilmiah, kita ketahui, melibatkan penggunaan jurnal-jurnal ilmiah yang menjadi forum bagi bertemunya ide-ide keilmuan. Jika jurnal-jurnal tidak ada, maka makalah-makalah asli, sebagai sebuah sumber utama (primary source) menjadi penting. Tetapi seringkali tidak ada cukup banyak waktu untuk membaca semua makalah-makalah yang ada, sehingga dalam hal ini sumber kedua (secondary source) akan berperan. Kumpulan abstrak sebagai sumber kedua, misalnya, dapat menjadi sebuah titik penting dalam rangkaian komunikasi informasi ilmiah. Kalau sumber kedua ini tidak ada, maka dapat dipastikan bahwa telah terjadi gangguan yang sangat serius dalam arus informasi ilmiah di suatu bidang.

Ketika komputer mulai digunakan dalam komunikasi ilmiah, maka segera muncul harapan untuk membuat solusi terhadap persoalan pengabstrakan[2]. Eksperimen-eksperimen pun dilakukan untuk membuat apa yang disebut peringkasan teks sercara otomatis (automatic text summarization) yang merupakan bagian dari kajian Pengolahan Bahasa Alamiah (Natural Language Processing, atau NLP). Kajian ini biasanya bersifat interdisipliner, menggabungkan Ilmu Linguistik, Komputer, Statistik, dan Kognitif. Para peneliti Automatic Text Summarization pada dasarnya berupaya menciptakan program dan sistem komputer yang dapat meringkas dokumen tekstual, dan dalam perkembangannya terbagi menjadi dua pendekatan.

Pendekatan pertama mengandalkan kesederhanaan dan bertujuan mengambil sari (extract) dokumen tekstual, untuk menghasilkan ringkasan dengan menghimpun istilah, frasa, dan kalimat yang terdapat di dalam dokumen bersangkutan. Untuk menentukan apa yang diambil dan dihimpun, digunakanlah rumus statistik guna menghitung kehadiran dan frekuensi kata atau kalimat. Melalui cara ini, secara cepat komputer dapat menghasilkan sebuah ringkasan yang jauh lebih pendek dari dokumen aslinya, namun isi ringkasan ini dianggap kurang mengandung pengetahuan (knowledge-poor), walau sangat cocok untuk sistem temu kembali yang mengandalkan pembobotan istilah (term-weighting).

Pendekatan kedua dianggap menghasilkan teks yang lebih "kaya" (knowledge-rich) dan dianggap sebagai pembuatan abstrak, bukan semata-mata sari (extract). Eksperimen dalam pendekatan kedua ini bertujuan menghasilkan sebuah teks baru setelah komputer melakukan analisis dan sintesis (dan juga mengambil sari) dari dokumen yang bersangkutan. Teks yang dihasilkan dengan cara ini diharapkan mengandung sari dokumen, namun juga diolah lebih lanjut oleh komputer agar menjadi sebuah tulisan baru yang dapat dipahami pembaca. Dengan kata lain, pendekatan kedua ini lebih menyerupai kegiatan mengabstrak, sementara pendekatan pertama lebih merupakan kegiatan membuat sari.

Pendekatan kedua ini mengandalkan apa yang disebut sebagai "pemahaman oleh mesin" (machine understanding) sebagai bagian dari kajian komputer dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan linguistik. Program komputernya juga dirancang untuk menerima permintaan atau pencarian informasi (dikenal dengan istilah query) dari pemakai sistem. Permintaan ini kemudian dikaitkan dengan fasilitas di dalam sistem yang mengandung alat-alat bantu untuk menetapkan wilayah atau area pengetahuan yang dibutuhkan pemakai. Alat-alat tersebut antara lain adalah thesaurus, ontologi, atau daftar kosa-kata. Di sini terlihat persamaan antara sistem komputer dengan sistem perpustakaan tanpa komputer. Ketiga alat yang disebut dalam sistem komputer tersebut sebenarnya juga tersedia dalam bentuk buku panduan di perpustakaan sebelum masa digital. Jadi, pengabstrakan berbantuan komputer sebenarnya meniru proses yang sudah lama dilakukan oleh perpustakaan, tetapi kali ini dengan maksud memperingkas serta mempercepatnya, sekaligus membebaskan pustakawannya dari pekerjaan itu!

Kegiatan pengabstrakan berbantuan komputer ini dikenal juga dengan kegiatan menyarikan fakta (fact extraction) dan bukan menyarikan teks (text extraction). Dalam sebuah artikel yang ditulis Jones (1999), kedua pendekatan ini tegas-tegas dibedakan. Dikatakan oleh Jones bahwa kegiatan menyarikan teks adalah kegiatan komputer yang berdasarkan apa yang terbaca oleh komputer itu atau "what you see is what you get." Komputer tidak punya pengetahuan sebelumnya tentang teks yang terbaca, dan hanya mengandalkan jumlah atau frekuensi untuk menentukan apakah sebuah istilah atau kata merupakan bagian yang penting mewakili pemikiran sebuah dokumen. Ini dikenal juga dengan pendekatan "terbuka" (open approach) yang hanya menghasilkan sekumpulan kata, frasa, atau kalimat, seringkali tanpa struktur yang jelas, sebab komputer tidak memperhitungkan kemungkinan adanya sinonim atau keterkaitan antar makna.

Sebaliknya dengan itu adalah kegiatan komputer yang mampu menyarikan fakta dengan menggunakan pendekatan "tertutup" (closed approach). Maksudnya adalah, komputer membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan sebelumnya tentang suatu bidang, dalam bentuk berbagai fasilitas seperti yang sudah disebut di atas, sehingga hasil kerjanya adalah "What you see is what you know". Seringkali, pengetahuan yang dihimpun oleh komputer sebelum melakukan abstraksi secara otomatis, tidak secara eksplisit terdapat di dalam dokumen yang diabstraknya. Inilah yang kemudian juga membuat pengabstrakan berbantuan komputer jauh lebih rumit dari segi pemrograman, dibandingkan penyarian teks otomatis. Teknologi yang terkait dengan ontologi, pembuatan kosakata secara terkendali berbantuan komputer, thesaurus, dan berbagai teknologi kecerdasan buatan lainnya, amat menentukan nasib perkembangan pengabstrakan berbantuan komputer. Sampai saat ini, teknologi-teknologi tersebut masih dalam tahap perkembangan.

Sementara menunggu teknologi tersebut, pertumbuhan informasi digital tidak dapat dibendung. Itu sebabnya, sementara belum ada teknologi yang lebih canggih, orang masih ingin mengandalkan teknologi "sederhana" dalam bentuk penyarian teks. Keinginan orang untuk segera memiliki alat bantu penyarian teks ini juga semakin mendesak karena pertumbuhan situs Web yang luar biasa di Internet, dan pada dasarnya situs-situs tersebut terutama mengandung teks. Dari sinilah kemudian muncul istilah baru yaitu text mining (pendulangan teks) yang mendampingi istilah sebelumnya, yaitu data mining (pendulangan data). Secara sepintas, pendulangan teks ini sebenarnya adalah penyarian teks juga, seperti yang sudah diuraikan di atas, tetapi fokusnya adalah dengan memanfaatkan timbunan teks yang terdapat di Internet dalam bentuk situs Web.

Sementara itu, untuk mengetahui lebih lanjut tentang teknologi ini, dapat ditengok beberapa proyek peringkasan teks sercara otomatis sebagai bagian dari kerja besar dalam Natural Language Processing berikut ini: • SweSum - Automatic Text Summarizer yang diciptakan Martin Hassel and Hercules Dalianis dari Royal Institute of Technology Swedia, dapat dilihat di situs mereka ( http://swesum.nada.kth.se/index-eng.html) . Perangkat lunak ini juga dibuat untuk bahasa lain selain bahasa Swedia dan Inggris, seperti bahasa Denmark, Norwegia, Spanyol. Perancis, Italia, Parsi, dan Jerman. • Summ-it Summarisation Applet Version 1.1, sebuah program kecil (applet) yang dapat ditanam di browser , dibuat dengan bahasa pemrograman Java oleh System Quirk, bagian dari School of ECM di University of Surrey, Inggris, dapat dilihat di situs merek( http://www.computing.surrey.ac.uk/SystemQ ) • Megaputer text mining adalah salah satu produk komersial, dapat dilihat di situs mereka ( http://www.megaputer.com/ ) • Raksasa IBM punya program Automatic Text Summarization, tetapi baru dalam satu bahasa, yaitu Jepang. Kegiatan riset di bidang ini dapat dilihat di situs mereka ( http://www.research.ibm.com/trl/projects/langtran/abst_e.htm ) • KENiA® (Knowledge Extraction and Notification Architecture) buatan PERTINENCE MINING, sebuah perusahaan Perancis. Contoh produk mereka dapat dilihat di http://www.pertinence.net/index_en.html

[1] Sebenarnya ada berbagai istilah yang menunjukkan upaya pembuatan ringkasan atau wakil dokumen, seperti abridgment, annotation, aphorism, axiom, brief, code, command, compendium, conclusion, databook, epitome, excerpt, extract, maxim, percept, precis, resume, review, selection, summary, summation, synopsis, dan terse conclusion. Varian lain dari ini misalnya adalah excecutive summary, atau executive brief. Di dunia perpustakaan dan informasi, istilah abstrak lah yang digunakan. [2] Banyak tulisan menyatakan bahwa tokoh yang mengawali upaya eksperimen ini adalah Hans Peter Luhn (1896 – 1964) yang pada tahun 1955 melakukan kajian terhadap sistem temu-kembali di laboratorium IBM. Namun kajiannya lebih untuk keperluan pembuatan indeks. Kajian yang lebih serius tentang program peringkasan teks ini baru marak bersamaan dengan kajian tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence) di tahun 1970an.

Diperoleh dari "http://perpuspedia.digilib.pnri.go.id/index.php/Abstract"

Kategori: Umum

Read more
Minggu, 09 Januari 2011 | 16.13 | 1 Comments

OTOMASI PUSAT DOKUMENTASI

Pangkalan Data Bibliografis

Pangkalan data bibliografis berisi cantuman bibliografis yang terkait, masing-masing cantuman (record) berisi kombinasi komponen berikut ini:

  1. nomor dokumen
  2. judul
  3. pengarang
  4. rujukan sumber
  5. abstrak
  6. teks lengkap
  7. istilah atau frase pengindeksan
  8. sitiran atau jumlah rujukan
  9. lembaga tempat asal dokumen atau alamat pengarang atau kedua-duanya
  10. bahasa dokumen sumber
  11. informasi lokal semacam nomor klasifikasi khusus atau lokasi

Komponen tsb di atas dapat dianggap sebagai rujukan dokumen (document reference) atau sitiran (citation) dan masing-masing biasanya memperoleh ruas (field) tersendiri. Komponen di atas hanya merupakan panduan karena masing-masing pangkalan data bibliografis memiliki komponen yang berlainan.

Pangkalan data bibliografi dapat dibagi menjadi 5 (lima) kategori sbb:

  1. pangkalan data besar yang berorientasi pada disiplin ilmu
  2. pangkalan data interdisipliner biasanya mencakup majalah inti
  3. pangkalan data lintas disiplin
  4. pangkalan data yang lebih kecil dan lebih khusus melayani aplikasi atau teknologi tertentu
  5. pangkalan data yang mencakup jenis publikasi tertentu misalnya paten.


Pangkalan Data Sumber

Merupakan dokumen elektronik. Isi pangkalan data sumber sangat bervariasi, dapat saja mencakup teks, angka, tabel, gambar dan grafik. Banyak pangkalan data sumber merupakan multimedia yang mencakup data tekstual, numerik, perangkat lunak, citra, suara, peta dan skema. Pangkalan data semacam ini dapat diakses secara terpasang (online) atau melalui CD ROM atau via videotext dan teletext.

Di bawah ini adalah beberapa pangkalan data sumber:

  • Pangkalan data teks lengkap:
    • BOSTON GLOBE
    • CENDATA
    • DMS/FI MARKET INTELLIGENCE
    • REPORT
    • FACTS ON FILE
    • GATRA
    • HARVARD BUSINESS REVIEW
    • KOMPAS ONLINE
    • dll


  • Pangkalan data direktori:
    • AMERICAN LIBRARY DIRECTORY
    • BOOKS IN PRINT
    • ICC BRITISH COMPANY DIRECTORY
    • TRADE NAME DATABASES
    • dll


  • Pangkalan data numerik:
    • CENDATA
    • CHEM-INTEL
    • D7B DUN'S FINANCIAL RECORD PLUS
    • DISCLOSURE DATABASES
    • PST PROMPT
    • dll


Sistem Berbasis Komputer di Pusat Dokumentasi

Penyusunan sistem berbasis komputer di Pusat Dokumentasi melibatkan dokumentalis dalam kegiatan yang bertautan dengan perencanaan, evaluasi, pemilihan dan implementasi sistem. Bila pusat dokumentasi memiliki cabang di tempat lain maka biaya yang akan dikeluarkan oleh lembaga yang membawahi pusat dokumentasi akan lebih banyak daripada hanya satu tempat saja. Waktu yang diperlukan untuk proses pemilihan dan implementasi sistem bervariasi antara masing-masing pusat dokumentasi, tergantung besar kecilnya pusat dokumentasi, sistem yang akan dikembangkan dan keuangan yang tersedia.

Biasanya dokumentalis tidak terlibat dalam rancang bangun sebuah sistem, tetapi lebih mengarah kepada pemilihan sistem atau paket perangkat lunak yang paling tepat guna. Analisis sistem dan dissain digunakan untuk mengganti sistem yang manual dengan sistem berbasis komputer atau perluasan sistem berbasis komputer yang sudah ada.

Dalam rancang bangun sebuah sistem dilakukan beberapa tahap sbb:

  • Tahap 1 : Perencanaan

    Tujuannya adalah untuk menyamakan teknologi informasi dengan strategi pada pusat dokumentasi, termasuk studi kelayakan dengan berbagai teknik pengumpulan data.

  • Tahap 2 : Analisis

    Tujuannya adalah mengembangkan spesifikasi rinci dari sistem yang dibutuhkan untuk mendukung Pusat Dokumentasi.

  • Tahap 3 : Disain

    Merupakan tahap disain database dan proses.

  • Tahap 4 : Implementasi

    Merupakan tahap pembuatan program komputer, pengujian dan training.

  • Tahap 5 : Pemeliharaan

    Merupakan proses yang mendukung sistem sesudah diimplementasikan.

Kriteria Memilih Perangkat Lunak


Dengan semakin bertambahnya perangkat lunak (software) berbasis PC di pasaran, alternatif pilihan semakin beragam. Masing-masing software tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, misalnya software A yang memiliki kemampuan komprehensif namun harganya sangat mahal, sementara software B yang cukup murah ternyata memiliki kemampuan sangat terbatas. Karena itu setiap dokumentalis yang akan melaksanakan otomasi hendaknya memilih dan membeli perangkat lunak yang betul-betul cocok untuk keperluan lembaganya.

Di bawah ini adalah kriteria/hal-hal yang harus diperiksa dalam memilih sistem yang cocok untuk perpustakaan:

  1. Ciri-ciri umum sistem (system feature):
  • Seberapa komprehensif lingkup pekerjaan yang bisa dilakukan suatu perangkat lunak ?
  • Apakah ia bisa mengerjakan semua fungsi-fungsi yang diperlukan ?
  • Apakah ada fungsi yang tidak bisa dikerjakannya ?
  1. Kemampuan menyimpan data (data storage):
  • Berapa jumlah data yang dapat ditampung ?
  • Apakah sistem dapat menampung ruas-ruas (field) yang merupakan pilihan atau semua ruas harus diisi sewaktu membangun pangkalan data ?


  1. Unjuk kerja (performance):
  • Berapa banyak fasilitas yang ada dalam suatu sistem untuk mengerjakan kegiatan di pusat dokumentasi ?
  • Apakah untuk melakukan satu kegiatan tertentu diperlukan banyak langkah atau sedikit ?
  • Kalaupun banyak apakah langkah-langkah itu mudah diingat atau rumit sekali ?
  • Apakah response time-nya cepat (misalnya, untuk melihat siapa meminjam dokumen X, seharusnya tidak lebih dari dua detik)


  1. Kemudahan penggunaan (ease of use):
  • Apakah secara keseluruhan sistem itu mudah ditangani ?
  • Berapa kali kita harus menekan tombol untuk mengerjakan sesuatu ?
  • Apakah letak tombol-tombol itu berdekatan ?
  • Apakah mudah bagi kita untuk berpindah-pindah dari suatu fasilitas ke fasilitas lainnya ?
  • Apakah menu yang tampil di layar mudah dimengerti ?


  1. Dokumentasi dan layanan purna jual:
  • Apakah manualnya cukup mudah digunakan ?
  • Apakah bahasanya cukup umum ?
  • Apakah tampilan manual enak dipandang dan tidak meletihkan mata ?
  • Apakah teks-teksnya jelas terbaca ?
  • Apakah ada demo ?
  • Apakah mudah menghubungi penjual jika ada kesalahan pada sistem ?
  • Berapakah ongkos memanggil teknisi jika perlu ada perbaikan ?
  • Berapa lama garansinya dan apa saja yang ditanggung dalam masa garansi ?
  • Apakah ada daftar alamat dari para pemakai-pemakai lain, sehingga kita bisa berkomunikasi dengan mereka untuk bertukar pengalaman ?



Read more

JENIS-JENIS INFORMASI ILMIAH

1. Sumber Informasi Primer


Status suatu perpustakaan/pusat informasi secara dominan menentukan jenis-jenis informasi yang dikelolanya, terutama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan informasi penggunannya. Perpustakaan perguruan tinggi sesuai dengan sifat dan kapasitas pelayanan serta kebutuhan penggunannya lebih banyak mengembangkan sumber informasi yang berupa buku, terutama buku teks. Perpustakaan khusus semacam perpustakaan balai penelitian dan balai pengkajian, demikian juga PUSTAKA lebih fokus mengembangkan sumber informasi yang berupa jurnal ilmiah sesuai kebutuhan utama informasi para peneliti, pengkaji, dan pembuat kebijaksanaan.


Berbeda daripada buku, jurnal ilmiah memuat informasi ilmiah mutakhir, terutama hasil-hasil penelitian dan percobaan serta perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang aktual. Kalaupun yang berupa buku, cenderung yang memuat uraian atau konsep-konsep ilmiah mutakhir hasil pembahasan dalam suatu simposium, seminar, workshop, kongres, pertemuan ilmiah. Sumber informasi ini berupa prosiding atau kumpulan makalah.
Dalam hal informasi ilmiah mutakhir yang dimuat dalam jurnal, PUSTAKA sebagai pusat informasi pertanian bagi peneliti dan pengkaji serta balai-balai penelitian dan pengkajian telah berupaya mengembangkan informasi baik dengan cara permintaan cuma-cuma, pertukaran literature, maupun pembelian/langganan. Hasil permintaan gratis berupa berbagai macam literatur yang sebagian besar terbitan Indonesia, sedangkan hasil pertukaran sebagian besar terbitan lembaga-lembaga penelitian institusi pertanian luar negeri. Jumlahnya mencapai lebih dari 200 judul.


2. Sumber Informasi Sekunder

Dalam pengertian perpustakaan / informasi yang dimaksud informasi sekunder adalah sekumpulan informasi berupa data bibliografis yang dikutip dari informasi primer dengan tujuan untuk mempermudah pencarian kembali (retriveral) dan penelusuran sejumlah informasi primer yang berupa artikel majalah atau buku-buku. Sumber informasi sekunder dapat berupa indeks, bibliografi, abstrak, daftar tambahan koleksi, atau katalog.


Permasalahan Penelusuran

Sarana dan sistem penelusuran semakin berkembang dengan terjadinya kemajuan teknologi di bidang informasi dan telekomunikasi. Sebagai contoh semakin beragamnya aplikasi penelusuran, berkembangnya penggunaan internet dan teknologi penyimpanan informasi pada perpustakaan atau lembaga informasi. Di Indonesia, walaupun baru sekitar 2 % penggunanya, keberadaan media internet sudah diterima oleh masyarakat dan menjadikannya pusat informasi yang dapat diakses dari manapun tanpa mengenal ruang dan waktu. Dalam teknologi penyimpanan informasi terlihat dari berkembangnya berbagai media informasi, seperti hardisk, disket, flashdisk, CD-ROM, DVD, Optical disc dan sebagainya.

sumber: http://ekakusmayadi.wordpress.com/e-learning/kiat-penelusuran/





Penelusuran Informasi Ilmiah


Penelusuran Informasi Ilmiah

Oleh: Budi Nugroho

Pendahuluan

Perubahan dan perkembangan informasi terjadi dengan amat cepat, sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keterampilan menelusur informasi ilmiah sangat diperlukan baik oleh kalangan industri, akademisi, maupun masyarakat pada umumnya.

Akhir – akhir ini penelusuran informasi menjadi lebih diperlukan dikarenakan adanya ledakan informasi yang semakin hari semakin bertambah banyak. Beragamnya bentuk media penyimpanan informasi khususnya dalam bentuk pangkalan data elektronik (internet, CD-ROM, dan OPAC), memerlukan penguasaan dan pemilihan sumber sumber informasi dengan lebih baik. Pengguna informasi dituntut untuk dapat mengembangkan kemampuaannya, agar dapat mengumpulkan informasi secara cepat, tepat, efisien sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Makalah ini membahas tentang teknik dan strategi penelusuran informasi dari sumber-sumber informasi yang tersedia di perpustakaan dan internet yang sangat luas dan banyak. Hal yang sangat penting adalah memilih sumber yang terbaik dari berbagai tipe informasi dan metode penelusuran yang paling efektif. Bahkan yang lebih penting lagi adalah mengevaluasi dan menganalisis informasi yang diperoleh.


Teknik dan Strategi Penelusuran Informasi

Pengguna datang ke pusat informasi, perpustakaan, atau clearing house bermaksud untuk mencari informasi yang mereka butuhkan. Masalah atau kebutuhan informasi tersebut tentu saja bervariasi, misalnya masalah yang dihadapi oleh peneliti, tentu tidak sama dengan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dari kalangan industri, dan lain pula dengan kebutuhan informasi bagi penentu kebijakan. Penelusuran informasi merupakan kegiatan untuk menemukan kembali informasi yang pernah ditulis atau didokumentasikan.


Kegunaan Penelusuran Informasi

q
Mencegah terjadinya duplikasi penelitian

q
Mencegah pemborosan waktu, tenaga dan biaya.

q
Mengetahui arah perkembangan ilmu/bidang yang diikuti.


Metode Penelusuran Informasi

Pemilihan cara-cara penelusuran tersebut tergantung kepada kebutuhan yang ingin dipenuhi. Sebagai contoh, apakah diinginkan hasil yang diperoleh dalam waktu singkat, jenis dan cakupan informasi yang diinginkan, serta dana yang disediakan.Pada umumnya, agar diperoleh hasil yang memuaskan, sebaiknya dilakukan penelusuran informasi melalui tiga cara di bawah ini :


q
Penelusuran secara manual, yang dilakukan menggunakan bantuan publikasi tercetak, misalnya buku, bibliografi, indeks, abstrak, atau katalog perpustakaan.

q
Penelusuran menggunakan pangkalan data elektronik yang dibangun sendiri, (OPAC), atau CD-ROM.

q
Penelusuran dengan cara akses langsung ke pangkalan data dalam dan luar negeri melalui jaringan internet.


Langkah-langkah Penelusuran Informasi


  • Menentukan secara jelas dan rinci tentang topik yang akan dicari.


  • Melengkapi kata kunci atau istilah penting yang sering digunakan, serta padanan katanya, baik di dalam bahasa Inggris, Latin, atau bahasa lainnya.



  • Menentukan batasan penelusuran misalnya :


a.
Penggunaan hasil penelusuran

b.Rentang waktu pustaka yang diinginkan

c.
Bahasa yang dipakai

d.
Cakupan geografis yang ingin ditelusur.

f.Bahasa yang digunakan di dalam literatur.

g.
Jenis dokumen yang diinginkan.


-
Memilih sarana atau alat penelusuran yang sesuai, misalnya daftar katalog, indeks, atau abstrak yang sesuai.

-
Mencatat hasil penelusuran berupa sitasi bibliografi yaitu pengarang, judul, data penerbit, tahun terbit, dan jumlah halaman.

- Menemukan lokasi informasi yang telah ditelusur ke tempat penyimpanan dokumen.


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam Penelusuran Informasi



  • Memahami jenis pangkalan data/sumber informasi yang ada maupun yang akan digunakan untuk penelusuran, baik dalam bentuk tercetak maupun digital.

  • Tahun dan cakupan bidang yang tersedia.
  • Format tampilan yang disediakan dari tiap-tiap pangkalan data.

  • Memahami panduan /cara akses pangkalan data, baik melalui kata kunci, indeks subyek, indeks pengarang, dan indeks geografi.

  • Khusus pada penelusuran menggunakan komputer, maka penggunaan boolen logic (and, or, not) serta pemenggalan-pemenggalan harus diperhatikan.

Teknik Penelusuran Pangkalan Data PDII – LIPI


Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilimiah (PDII – LIPI) telah memiliki koleksi pengetahuan terekam yang berupa buku, majalah ilmiah, laporan penelitian, artikel ilmiah, tesis maupun disertasi, dan dokumen-dokumen ilmiah lainnya yang dikelola dalam bentuk perpustakaan.

Semua literatur PDII-LIPI (buku, monografi, tesis, disertasi, makalah seminar, laporan penelitian, abstrak artikel majalah Indonesia, artikel majalah asing, abstrak paten luar negeri dan teknologi tepat guna) terangkum dalam sebuah Sistem Pencarian yang didesain untuk mempermudah pencarian data/literatur dari ratusan ribu data dalam database PDII-LIPI. Kita juga bisa menggunakan bantuan penelusuran boolean opreator. Basis program yang digunakan untuk pengelolaan database PDII menggunakan CDS/ISIS yang tergabung di dalam Jaringan CDS/ISIS di Indonesia.

Pangkalan data PDII – LIPI dapat diakses secara online melalui Online Public Access Catalogue (OPAC) yang ada di perpustakaan PDII – LIPI. Para peminat informasi dapat mengunjungi perpustakaan PDII-LIPI yang beralamat di Jalan Jenderal Gatot Subroto 10, Jakarta 12190. Perpustakaan ini dibuka untuk umum, pada Hari Senin s.d. Sabtu pukul 09.00 – 15.30.

Selain itu, PDII – LIPI juga menyediakan CD ROM pangkalan data yang memuat data bibliografis seluruh literature koleksi perpustakaan. Pangkalan data ini dapat diakses secara offline dari komputer peminat Informasi.

Teknik Penelusuran melalui Search : expert mode

Istilah

Cantuman (record), kumpulan data mengenai sebuah buku, misalnya judul, penulis dan subjeknya.

Pangkalan data bibliografis (bibliographic database), kumuplan cantuman buku

Penelusuran (search), dari kata dasar telusur, yang berarti mencari atau berusaha menemukan Informasi atau data dengan menggunakan catalog, indeks atau komputer. Kalimat Penelusuran adalah satu atau sejumlah kata yang digunakan dalam penelusuran. Temuan adalah hasil dari penelusuran.

Pangkalan data bibliografis PDII – LIPI

PDII-LIPI mempunyai sejumlah pangkalan data bibliografis yang terdiri atas buku, monografi, tesis, disertasi, makalah seminar, laporan penelitian, abstrak artikel majalah Indonesia, artikel majalah asing, abstrak paten luar negeri dan teknologi tepat guna.

Dalam pangkalan data bibliografis PDII – LIPI, hanya ruas-ruas berikut yang diindeks yaitu : JUDUL, PENULIS, NAMA BADAN, NAMA KONFERENSI, JUDUL SERI DAN SUBJEK. Isi ruas diindeks kata demi kata dan angka tidak diindeks, sehingga CO2 diindeks sebagai CO.

Mekanisme Penelusuran oleh komputer adalah sebagai berikut : setelah menerima kalimat Penelusuran, komputer memeriksa setiap cantuman untuk menemukan kata atau istilah yang sama (yang terdapat dalam kalimat Penelusuran) dalam ruas-ruas tersebut di atas. Kata-kata yang ditemukan oleh komputer kadang-kadang tidak memperlihatkan hubungan kontekstual karena kata-kata tersebut terpisah oleh sejumlah kata. Sebagai akibatnya, Penelusuran menghasilkan temuan yang tidak relevan.

Menu Penelusuran

Menu Penelusuran ke pangkalan data terdiri atas tiga pilihan utama, yaitu :

Database Selection

Search & Dispay

Print & Export (hanya digunakan untuk petugas)

Untuk memulai Penelusuran, ikutilah prosedur berikut :

  1. Pilihlah Database Selection

    [Daftar nama pangkalan data kemudian muncul]

  2. Pilihlah pangkalan data; kemudian tekanlah Enter

    [Menu Search & Display kemudian muncul dan kursor berada pada pilihan pertama, Search : expert mode]

    3.
    Tekanlah Enter

    [Kalimat berikut kemudian muncul :

    Search : expert mode

    search formulation …]

    4.
    Ketiklah kalimat penelusuran; kemudian tekanlah Enter

    [Jika Penelusuran menghasilkan temuan, akan muncul kalimat

    Set# … Retrieved records …

    5.
    Tekanlah Esc, pilihlah Display last search results; kemudian tekanlah Enter

Jika kalimat penelusuran tidak menghasilkan temuan, kalimat No records retrieved akan muncul. Jika kalimat penelusuran salah, kalimat Syntax error in search formulation! Akan muncul. Untuk memulai penelusuran baru, tekanlah Enter dua kali dan kemudian ketiklah kalimat penelusuran.

Pada waktu mengetik kalimat penelusuran, tombol-tombol berikut dapat digunakan :

F2 : menghapus seluruh kalimat

F6 : menghapus bagian kalimat mulai dari kursor

Home : memindahkan kursor ke awal kalimat

End : memindahkan kursor ke akhir kalimat

Tab : melihat kalimat-kalimat penelusuran sebelumnya

Esc : membatalkan penelusuran dan kembali ke menu

Enter : memulai penelusuran

Penelusuran

Untuk menyusun kalimat penelusuran, ketiklah salah satu atau lebih kata Indonesia atau Inggris. Jangan menggunakan angka atau kata seperti dalam, dari, pada dan terhadap atau padanannya dalam bahasa asing (in, of dan on). Kata sandang asing seperti the, a dan an sebaiknya tidak digunakan.

Karena tajuk subjek (bentuk lain dari deskriptor atau kata kunci) dalam bahasa Inggris digunakan dalam pangkalan data, pemilihan istilah Inggris yang tepat dapat meningkatkan hasil penelusuran.

Penelusuran dengan Operator Boolean (DAN, ATAU, BUKAN)

Operator DAN (dinyatakan dengan *) digunakan untuk menemukan suatu topik dan subtopik. Misalnya, untuk menemukan literatur mengenai kandungan kimia pepaya, ketiklah :

kandungan*kimia*pepaya

atau

chemical*compound*papaya

Operator ATAU (dinyatakan dengan +) digunakan untuk menemukan suatu topik dan sinonimnya. Misalnya, untuk menemukan literatur mengenai alkohol, ketiklah :

alkohol+etanol+(etil*alkohol)

atau

alcohol+ethanol+(ethyl*alcohol)

Operator BUKAN (dinyatakan dengan ^) digunakan untuk menemukan suatu topik tertentu. Misalnya, untuk menemukan literatur tentang pabrik, tetapi bukan pabrik benzen, ketiklah :

pabrik^benzen

Saat ini format pangkalan data PDII – LIPI terdiri atas tiga versi yang berbeda, yaitu versi OPAC DOS (online), versi OPAC WINDOWS INTRANET (online) dan versi OPAC WINDOWS CD ROM (offline). Namun demikian pada dasarnya untuk menggunakan ketiga versi pangkalan data tersebut tidak jauh berbeda. Uraian di atas adalah cara penggunaan OPAC DOS (online), dan dapat digunakan pula untuk kedua versi yang lain dengan sedikit penyesuaian

Teknik Penelusuran Informasi melalui Internet


Perkembangan informasi dan Internet itu sendiri pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya keberlimpahan informasi (information oveload) atau kebingungan masyarakat awam pengguna Internet dalam memilih dan menentukan nilai (value) dari informasi yang mereka temukan di Internet. Selain itu masyarakat awam sangat mungkin memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan penelusuran informasi di Internet. Keterbatasan tersebut mungkin berupa tidak adanya waktu yang cukup untuk melakukan penelusuran secara serius atau karena belum/tidak dimilikinya ketrampilan dalam menelusur informasi di Internet atau karena tidak dimilikinya pengetahuan yang memadai tentang informasi itu sendiri.

Pemanfaatan mesin pencari

Satu-satunya alat atau fasilitas yang dipergunakan untuk mengeksplorasi berbagai data, Informasi, dan pengetahuan yang ada di internet adalah mesin pencari atau yang biasa disebut search engine. Search engine adalah sebuah program yang dapat diakses internet yang berfungsi untuk membantu pengguna Komputer dalam mencari berbagai hal yang ingin diketahuinya. Di internet, terdapat ratusan bahkan ribuan search engine yang dapat diakses secara cuma-cuma karena sifatnya sebagai pintu gerbang bagi para pengguna sebelum memasuki situs (web site) yang diinginkan, banyak yang menyebut search engine sebagai portal (bandingkan dengan fungsi portal di dunia nyata, yang kerap ditemui di pintu masuk ke sebuah kompleks perumahan).

Dari berbagi search engine yang ada, yang paling popular di antaranya adalah Google, Yahoo!, Altavista. Melalui aplikasi browsing seperti semacam Internet Explorer atau Netscape Navigator, ketiga mesin pencari ini dapat diakses melalui alamat http://www.google.com,
http://www.yahoo.com, dan http://www.altavista.com.

Anatomi search engine

Setiap search engine pasti memiliki fasilitas tempat para pemakai internet (netter) dapat mengetikkan kata kunci yang akan menjadi referensi pencarian. Jika tombol search dipilih, aplikasi search engine akan mencari di seluruh komputer yang terhubung ke internet, berbagai jenis data baik dalam bentuk dokumen, gambar, audio, maupun video.

Search engine akan menampilkan link (alamat) keseluruhan situs yang berhubungan dengan hasil dari pencarian terhadap kata tersebut. Seorang netter tinggal mengklik salah satu link yang ada dapat mengakses dokumen yang dimaksud.

Sebagai catatan, tidak semua search engine hasilnya akan langsung mengarah ke situs yang bersangkutan. Yahoo! misalnya, memiliki hasil keseluruhan situs yang ada digolongkan dahulu menjadi beberapa kategori (sistem indeks). Sistem kategori ini dipergunakan untuk membantu netter dalam menentukan informasi yang paling relevan dengan yang diinginkannya.

Teknik menyaring informasi yang relevan

Sedemikian banyaknya kuantitas informasi yang terdapt di internet menyebabkan terjadinya fenomena 'information overloaded" – banjir informasi yang tidak terkendali-. Ada dua teknik dasar yang biasa dipergunakan, yaitu menggunakan simbol-simbol matematika dan simbol-simbol boolean.

Filterisasi dengan simbol matematika

Simbol pertama yang sangat berguna untuk dipakai adalah tanda plus (+). Tanda plus dipergunakan jika seorang netter ingin mencari berbagai dokumen dengan kata kunci lebih dari satu. Mesin pencari jika menemukan format semacam ini akan mencari berbagai sumber dokumen maupun artikel yang ada di seluruh internet yang didalamnya terdapat kata tersebut. Jika terdapat sebuah dokumen yang mengandung salah satu atau dua kata yang ada, yang bersangkutan akan ditampilkan.

Dari hasil pencarian melalui search engine Google terlihat bagaimana hasil terlihat lebih fokus menuju apa yang diinginkan. Simbol "+" ini dapat dipergunakan sebanyak-banyaknya, karena prinsip yang kerap dipergunakan dalam melakukan searching adalah bahwa semakin spesifik yang dicari (semakin banyak tanda "+") akan semakin baik, karena search engine akan lebih fokus melakukan pencarian.

Simbol lainnya yang sering digunakan mendampingi tanda "+" adalah simbol "-". Untuk mudahnya, simbol tersebut dapat dibaca sebagai kecuali.

Satu simbol lagi yang kerap dipakai mendampingi plus dan minus adalah simbol multiplikasi yang dipresentasikan dengan tanda kutip ("). Simbol ini dapat membantu netter untuk semakin memperkecil dan memfokuskan pencarian ke hal yang benar-benar diinginkan. Tanda kutip berarti memerintahkan search engine untuk mencari dokumen atau informasi yang mengandung teks persis seperti yang ada di dalam tanda kutip terkait.

Ketiga simbol matematika tersebut jika digabungkan akan menjadi alat pencari yang ampuh. Ada satu hal yang patut dicatat sehubungan dengan teknik pencarian jika netter menggunakan tanda spasi yang memisahkan antara kata-kata yang ada, spasi tersebut dapat dibaca sebagai "atau".



Jurnal Ilmiah


Posted on August 29, 2007 by saidin21

A. Pengertian Jurnal Ilmiah

Jurnal adalah terbitan berkala yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang sangat diminati orang saat diterbitkan . Bila dikaitkan dengan kata ilmiah di belakang kata jurnal dapat terbitan berarti berkala yang berbentuk pamflet yang berisi bahan ilmiah yang sangat diminati orang saat diterbitkan. (Buku Pegangan Gaya Penulisan, penyunting dan penerbitan Karya Ilmiah Pegangan Gaya Penulisan, Penyunting dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia, karya Mien A. Rifai, Gajah Mada Uneversity, 1995, h.57-95).

B. Macam Dan Jenis Jurnal

Ada beberapa jenis penerbitan berkala, selain jurnal , yaitu Majalah, Bulletin, Warkat Warta.
Majalah adalah terbitan berkala yang bukan harian, setiap keluar diberi halaman terpisah, biasanya diidentifikasi dengan tanggal dan bukan nomor berseri.
Bulletin adalah berkala resmi yang dikeluarkan lembaga atau organisasi profesi ilmiah serta memuat berita, hasil dan laporan kegiatan dalam satu bidang.
Warkat Warta, adalah terbitan pendek berisi berita, termasuk kemejuan keilmuan yang berisi catatan singkat yang mengutarakan materi secara umum dan tidak mendalam. (lihat Mien A. Rifai h.57-59).
Selain itu, dari sisi teknis isi ada tiga macam berkala ilmiah yaitu pertama majalah teknis ilmiah, kedua berkala semi ilmiah dan ketiga berkala sekunder.
Majalah teknis ilmiah merupakan majalah yang memuat hasil dan temuan baru penelitihan. Berkala ini biasanya sebagai sarana untuk komonikasi para pakar yang terspesialisasi.
Berkala semi ilmiah, yaitu berkala yang memuat tulisan teknis dengan cakupan yang bersifat siklopedia dan ditujukan bagi mereka yang bukan ahli atau spesialis dalam bidang yang dimaksud.
Berkala sekunder berisi abstrak atau ringkasan majalah primer yang sering disebut pula berkala penyari (abstracting Jurnal).
Selain itu, untuk keperluan pendidikan ada pula yang disebut berkala tinjauan yang memuat berbagai artikel ilmiah sejenis yang terbit beberapa tahun terakhir untuk memberikan gambaran kemejuan menyeluruh suatu topic (lihat Mien A. Rifai, h.59).
Berdasarkan pengertian, macam dan jenis tersebut diatas, didalampedoman ini dimaksudkan dengan jurnal ilmiah adalah terbitan berkala yang berisi kajian-kajian ilmiah yang spesifik dan dalam bidang tertentu.


Read more

wajib dibaca

  • Semua berasal dari Tuhan - Beberapa minggu yang lalu, saya dan teman-teman kampus berencana mengadakan acara makan-makan di lapangan Lasinrang Pinrang ketika kami pulang dari kampus....
    15 tahun yang lalu
 
Copyright prodi bahasa kelas a © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.